Gatot, Dari Jadi Tukang Batu Hingga Kesulitan Dana Untuk Kuliah

PksRajaKedai - Nama Gatot Pudjo Nugroho tengah populer di Provinsi Sumatera Utara. Ia unggul dalam perhitungan cepat (quick count) pilgub, Kamis (7/3) lalu. Pria kelahiran Magelang itu berpeluang menjadi Gubernur Sumut 2013-2018.

UNGGUL dalam penghitungan cepat pilgub menjadi prestasi bagi pria kelahiran Magelang, 11 Juni 1962.

Bersaing dengan rival pasangan calon yang semuanya adalah putra daerah setempat, ia berhasil menunjukkan sisi ketokohannya. Beberapa tahun terakhir ia memang menempati jabatan strategis eksekutif di Tanah Batak.

Sebelumnya ia adalah wakil gubernur Sumatera Utara periode 2008-2013 mendampingi Gubernur Syamsul Arifin. Namun, pada 2011 ia naik menjadi Plt Gubernur Sumut karena Syamsul Arifin terjerat kasus korupsi.

Terlepas dari perjuangannya di Pilgub Sumut, ada kisah menarik mengenai sejarah masa kecil Gatot. Putra pasangan Djoeli Tjakra Wardaja (80) dan Soelastri (alm) ini berasal dari Kampung Potrosaran, sebuah kampung kecil di Kelurahan Potrobangsan, Kota Magelang.

Ayahnya anggota TNI berpangkat Sersan. Ditemui di rumah tinggalnya kini di Perumahan Kalinegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Djoeli Tjakra pun menuturkan riwayat Gatot.

Di Kota Magelang, Gatot menghabiskan masa remajanya dan menempuh pendidikan hingga STM Negeri Magelang.

Menjelang tamat STM, Gatot yang juga punya keinginan besar untuk menjadi tentara itu berniat mengikuti test Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri), tetapi gagal.

’’Gatot lulus STM pada 1981. Lalu ia bekerja dengan Pak Aknum, seorang kontraktor bangunan. Ia tidak meneruskan pendidikan karena pada saat itu memang saya tidak bisa lagi membiayai,’’ katanya, kemarin.

Bekerja di perusahaan kontraktor, Gatot diberi pekerjaan menata batu untuk pondasi Jl Raya Kaponan-Ketep. Atas pekerjaannya, ia mendapat bayaran dari bosnya. Karena saat itu gaji yang diterima sangat kecil dan tidak sesuai dengan tenaga yang dikeluarkan, Gatot pulang ke rumah dan menangis. Di hadapan orang tuanya, ia merengek ingin meneruskan sekolah saja ke Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan tidak mau lagi bekerja.

Gatot pernah pula melamar untuk Sekolah Calon Bintara (SECABA) Angkatan Darat (AD) namun harus tersingkir saat tes bidang kesehatan. Alasannya, kulit kakinya yang kasar dan berlubang-lubang karena pekerjaan kasar yang ditekuninya itu.

’’Ia pernah nangis di hadapan saya karena gajinya tidak cucuk (tidak sesuai). Ia merengek ingin meneruskan sekolah saja ke UGM dan tidak mau bekerja,’’ kenang sang ayah sambil tersenyum geli.

Karena keterbatasan ekonomi, Djoeli tak lantas mengabulkan keinginan putra keduanya itu. Gaji sebagai anggota TNI berpangkat sersan tak mencukupi membiayai pendidikan anak hingga perguruan tinggi. Terlebih masih ada tiga adiknya yang masih memerlukan biaya sekolah.

Meski ditolak sang ayah, Gatot tetap bertekad melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Tidak bisa mendaftar ke UGM, ia memilih target lain, yakni Institut Teknologi Bandung (ITB).

Hanya berbekal selembar surat kabar yang terdapat lembar pengumuman pendaftaran mahasiswa baru di ITB, suami dari Sutias Handayani itu berangkat ke Bandung. Ia mendaftarkan diri di D3 Politeknik ITB Bandung jurusan Teknik Sipil Program Studi Konstruksi Bangunan Gedung. Jurusan tersebut untuk menghasilkan instruktur yang akan ditempatkan di politeknik yang akan didirikan di berbagai daerah di Indonesia.

Karena tak akan dipungut biaya pendidikan, Gatot ikut tes dan akhirnya dinyatakan lulus. Setamat program D3 ITB tersebut, Gatot ditempatkan sebagai staf pengajar di Politeknik USU sejak 1986. Sejak saat itu, dia tinggal di Medan hingga sekarang. Sejak itulah ia mengenal betul Tanah Batak.

Mengenai karir politik, nama Gatot Pujo Nugroho mencuat dan mulai dikenal luas bersamaan dengan amanah diembannya sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Sumut 2006-2011. Sebelumnya, meski aktif dalam kegiatan dakwah bersama PKS, nama Gatot belum begitu dikenal di tengah-tengah publik. Pasalnya, karena tercatat sebagai dosen di Politeknik Negeri Medan (Polimed), namanya tidak masuk dalam struktur kepengurusan PKS Sumut.

Bersamaan dengan terpilihnya dia sebagai Ketua DPW PKS Sumut dalam Musyawarah Wilayah (Muswil) I PKS Sumut pada akhir 2006 lalu, Gatot pun secara resmi mengundurkan diri sebagai staf pengajar di Polimed.

Saat menduduki jabatan sebagai Plh Ketua DPW PKS Sumut pada 2005, selanjutnya, dia diminta menjadi calon Wakil Gubernur Sumatera Utara mendampingi Syamsul Arifin. Sejak itu namanya makin populer di seluruh wilayah Sumatera Utara. Sampai akhirnya ia membulatkan tekad mencalonkan diri sebagai Gubernur Sumut periode 2013-2018 bersama Tengku Erry yang diusung PKS dan Hanura.

Pada Lebaran 2012, ia menyempatkan diri pulang ke Kota Magelang untuk meminta doa restu orang tua dan saudara-saudaranya. Djoeli, sang ayah pun memberi pesan kepada Gatot agar jangan banyak mengumbar janji dalam berkampanye.

’’Saya memberi restu. Saya juga berpesan apabila nanti berhasil terpilih sebagai gubernur, agar tetap menjalankan tugas sesuai amanahnya. Kami orang tua tetap bangga pada Gatot dan lebih bangga lagi kalau Gatot pun jadi kebanggaan warga Sumatera Utara,’’ ungkap Djoeli. [koran suara merdeka]

18:11 | Posted in | Read More »

Masya Allah, Aleg-aleg PKS Emang BEDA! | Kultwit @JaLdeee





محمد ريزالدي لطيف
@JaLdeee 
Trilliuner Masa Depan | CEO @jal_production @jaltourtravel 



  1. Sebenarnya Apa yg Mau sy Tulis ini Berawal dari Kegelisahan sy Akan Banyak Omongan Orang Bahwa "Aleg PKS mah Sama Aj Kaya Partai Lain" :)

  2. Maka Sbelum Masuk Itikaf Ramadhan Besok sy Mau Cb Bahas dikit Soal Temuan sy di Lapangan soal Aleg PKS.Termasuk yg cm BerGAJI Rp500.000,-

  3. Sebelumnya Harus di Fahami dl Bahwa Untuk jd Anggota Dewan dr PKS kalo dia Emang KADER maka Semua Biaya Kampanye di Tanggung Jamaah..

  4. Jadi "Nasib" Anggota Dewan PKS itu Sepenuhnya ada di Majelis Syuro.. Mo di Pasang ato Di Copot Bebas. Cz emg Ga Keluar Duit..

  5. dan Sedari Awal kita ikut Pengkaderan PKS Maka yg di Bina Pertama Adalah Aqidah kita dulu Kudu Lurus.. Baru Shahihul Ibadah dll.

  6. Buat yg Emang Mau Tau Gimana sih Caranya Ko Kader PKS Bisa Militan, dsb Bisa di Baca Salah 1 Point nya disini http://hazelniez.wordpress.com/2009/10/06/10-tarbiyah-characters-muwashofat-tarbiyah/ …

  7. Sy minta Izin juga nih scr Terbuka ke yg punya web nya buat Posting 10 Muwashofat Tarbiyah nya.. cz kl Gw buat lagi Bakal lama. :D

  8. Semoga Allah Balas dengan Setiap orang yang Terinsirasi atas tulisan antm ya Ikhwah.. :D

  9. Jadi kl Mau Jadi Aleg PKS itu bukan Hal yang Mudah. :D Ada Mutabaah nya dulu Brp banyak Juz Al-Qur'an yg ia Baca Tiap Hari.

  10. Hafalannya gimana dan Lain Sebagainya..hehe..belum lagi Kapasitas Ilmu Umum nya.. Maka di PKS kita di Biasakan Untuk Berfikir & Bergerak

  11. Murabbi sy di Bintaro dulu itu Prnh Jadi Anggota MajelisSyuro Periode Lalu..M. Syuro ini Tempat Pengambilan Keputusan Tertinggi di PKS.

  12. Gw Ga Pamer murabbi.. Cm Biar Ente Tau bahwa apa yg Sy Ceritakan ini Shahih & Langsung dr Qiyadah tea.. :D

  13. Suatu hari Murabbi sy di Telp Aleg PKS DPRD Banten.. sy Lupa namanya.. (Maap :D) Aleg ini Minta Ketemuan.. Penting ktnya..

  14. Kenapa ko Sharing nya sm Ustadz Ika? Krn Ustadz Ika Fithriyadi ini Anggota Majelis Syuro dr Dapil Banten..

  15. Pemilihan Majelis Syuro ini di PKS Ketat.. Semua Berdasar Kinerja & Kebutuhan Dakwah. Kl Ketauan Kampanye *Coret* dr Bursa lsg.

  16. Jd Ga boleh Kampanye. itu Mengapa Porsesi Pemilu Internal PKS Amat Sangat Murah ongkos nya.. Alhamdulillaah.. Semoga Allah Berkahi.

  17. Nah Pas Ustadz Ika Ketemu Sm Aleg Tadi Aleg ini Bilang "Stadz, Ana Gelisah nih.. Ada Perang Batin nih"

  18. "Perang Batin Antara Kebutuhan Dakwah Di Parlemen dengan Tanggung Jawab Moral sy Dengan Kader lain stadz"..

  19. "Emang Kenapa akhi?" Tanya Ustadz Ika.. "Ini Stadz sy Mo Beli Mobil Tapi Malu sm Kader Lain".. *Aleg PKS ini Mo Beli Mobil aja Repot* :D

  20. "Jadi gini ya Stadz" lanjut Aleg tadi. "Rumah Ana Jauh Stadz dari Kantor DPRD Banten yg di Serang (Aleg Dapil Tangerang)

  21. "Tiap Hari Ana Naik Kereta Stadz Buat Ke Kantor.. Sampe DPRD Langsung Rapat.. Udah nya Pulang Harus Menempuh Jalan Jauh lagi Mana Panas"

  22. "Kalo Sesekali sih Gpp Stadz.. Ini tiap Hari.. Baru Sampe Kantor aja Ud Cape Stadz. Tenaga Abis di Jalan.."

  23. "Kl tenaga Abis di Jalan Terus gimana Ana Bs Berjuang Untuk Konstituen stadz? Sedang itu Butuh Energi juga.."

  24. La Terus Ustadz ika Nanya "Lah Kenapa Antm Ga Beli Mobil aja.. Ntar Pake Sopir, Terus Tinggal diRumah Dinas ??"

  25. Trus Aleg ini Jawab "Ana Ga Enak Stadz sm Kader Lain.. Soalnya Sebelum Jadi Kader Ana bukan Kader Berduit." :'( Allahu akbar.. :'(

  26. Jadi Aleg ini Ga Mau Beli Mobil n Tinggal di Rumah Dinas Lantaran Ga Enak Sama Kader Lain.. Meski dia Punya Gaji dr DPRD ttp aj Enggan..

  27. Karna dia Juga Menyaksikan Perjuangan Kader Kader lain untuk Menangkan dia Masuk DPRD.. Meski ia Ga Banyak Keluar Uang..

  28. Lalu Aleg ini Nanya ke Ustadz "Ana Harus gimana Stadz?" Galau die mo Beli Mobil buat Kebutuhan Dakwah juga.. :D

  29. Kata Ustadz Ika "Akhi antm Cukup Ga Gaji nya buat Beli Mobil?" | "Cukup Stadz". | "Ya Sudah Beli saja. toh antm Pake Itu jg Buat Dakwah"

  30. Sy jadi Inget kata Ustadz Hilmi Ketua Majelis Syuro nih. "Antum Punya Pesawat pun Bagus Akhi Asal Itu Buat Dakwah!" Beuh....

  31. Ada lagi Soal Ustadz Salbini yang di Ceritain Pa Eko Temen LQ sy.. Ustadz Salbini ini Gaji nya Pernah Cuma di ambil Rp 500.000,-..

  32. Di Tanya ke Ustadz Salbini Aleg TangSel ini "Lha Gaji Anggota DPRD kn Gede Stadz? ko Cuma Rp 500 ribu??" hehe...

  33. Hehe.. "Abis di Bagi ke Proposal noh di Rumah".. hehe.. Ternyata Banyak Proposal dari DPC dll Untuk Kegiatan Mereka..

  34. Terus Kalo gitu Apa Enak nya Jadi Aleg dari PKS?? :D | Emang Kate siape Enak? :p Tiap Bulan Harus di Infaqkan Skian Persen u/Dakwah Lagi

  35. Waktu u/Keluarga Ud Pasti Abis..Kerjanya Dari Pagi smp Tengah Malem Rapat. Perut Maju, Di Caci Maki Masyarakat. diFitnah Macem Macem. :D

  36. Apalagi yg di DPR RI.. Ampe Tidur di Kantor.. :D

  37. Diawal Ustadz @aheryawan Naik dl sy Sempet Chating sm Istri nya Bu @netty_heryawan ..Sy Nanya Gimana Kondisi Keluarga Pasca Ustadz Naik (jadi gubernur-ed)

  38. Bu @netty_heryawan bilang "Kalo Bukan Karena Dakwah Sy Ga akan Begini akh.. Sebenernya sy Nulis ini Sambil Menitikkan Air Mata Juga"

  39. Bu @netty_heryawan Mgkn ud Lupa cz Kesibukan nya yg Luar biasa. Tp sy Inget Betul Waktu itu sy Chat sm Beliau Pas Ustadz Baru Naik. :D

  40. Bu @netty_heryawan bilang "Skrg Waktu Kami untuk Keluarga sdh Semakin Sedikit.. Tapi inilah Resiko Dakwah, kan ini Atas Nama Dakwah"

  41. “Memang Seperti itu Dakwah. Dakwah adalah Cinta."

  42. "Dan Cinta akan Meminta Semuanya dari Darimu. Sampai Pikiranmu. Sampai Perhatianmu. Berjalan, Duduk, dan Tidurmu." - KH. Rahmat Abdullah

  43. “Bahkan di Tengah Lelapmu, Isi Mimpimu pun Tentang Dakwah. Tentang Ummat yang kau Cintai”. - KH Rahmat Abdullah.

  44. Hakadza ya Ustadzy @pkspiyungan .. Aasif wa Jazakallahu ahsanal Jaza.. *Baca Doa Kafaratul Majelis* :D Uhibbukum Fillah Jamian ya Ikhwah

  45. Sory Mas Bro @pkspiyungan Ad yg Kelewat Satuuuu Lagi. :D Sy mo Cerita Soal Guru Tahfidz Qur'an Kita KH. Abdul Aziz AbdurRauf - Al-Hafidz

  46. Buat yg Suka Itikaf 10 Hari Terakhir di Masjid Raya Habiburrahman PT.DI Mesti Kenal sm Guru Kita KH. Abdul Aziz Abdur Rauf Al-Hafidz. :D

  47. Sy Alhamdulillaah Dari Semenjak Kuliah tiap 10 Hari Terakhir Ramadhan Selalu Maksain Itikaf di Masjid Habiburrahman PT.DI Bandung

  48. dan Imam Besar nya KH. Abdul Aziz Abdur Rauf Lc. Al-Hafidz ini.. Aleg DPRD DKI Jakarta. Cateett Masjid nya di Bandung.. :D

  49. Ustadz Abdul Aziz ini Guru Tahfidz Qur'annya Kader Kader PKS.. :D Alhamdulillah Smp Sekarang Mgkn Muridnya yang Hafidz Qur'an ud Ratusan.

  50. Apa Pas Ustadz Jadi Aleg di DPRD Jakarta Masjid Habib ia Tinggalin? Kan Banyak tu yg Bilang "Ah PKS Masuk Politk Lupa Dakwah" :D

  51. Sy Nanya Tahun 2009 lalu ke Ustadz.."Stadz,Gmn Semenjak Jadi Aleg Stadz. Komentar Jamaah?, Kan Kesan Anggota Dewan tu Negatif stadz" :D

  52. Ustadz bilang : "Ah Biarin aja Akhi,Yang Penting sy nya Ga Begitu" hehe.. Asli Kikuk gw kl Ngadepin Ustadz.. Kl ga di Tanya ga ngmgn. :|

  53. sy Saksi Perjuangan Ustadz Jadi Imam Sholat Qiyamul Lail Meski beliau jadi Aleg DPRD Jakarta.. Tiap Malem sy Pantau. Ustadz dtg ato Kaga

  54. Knp gw pantau?? Biar gw bisa Jawab kalo ada yang Bilang "Ustadz PKS Berubah Semenjak Masuk Dewan".. :D

  55. Suatu Hari gw tungguin Ustadz Ko Ga Dateng Dateng ampe jam 10 Malem.. Ustadz emg Sejak jd Aleg Jakarta tiap Hari Bolak Balik Bdg-Jkt.

  56. Jadi Sholat Malem di Habib itu yg Cewe di Bangunin jam 12. yg Cowo Jam Stgh 1. Jam 1 Mulai Sholat Ampe jam 4 Shubuh Baru Sahur..

  57. Akhirnya Gw Ketiduran kan tu kira kira jam 10 an lah. Di bangunin Kang Untung (panitia) jam Stgh 1. gw mikir "Ustadz Mane nih?"

  58. Dan Pas Mulai Sholat.. Lah Ustadz Abdul Aziz ud Pegang Mic aje.. hahaha.. die Pimpin Sholat Malem 3 JUZ kaga Keputus! Subhanallaah.

  59. gw Mikir "ni Ustadz tidur nya Kapan yak?" Apa iya dia kuat QL 3 Juz cm tidur 1 jam?? Emang si di Witir pernah Keliatan Goyang bliau..

  60. Tapi Goyang doank.. Berhenti Sholat nya kaga.. dan di Witir nya inilah yg Gw Paling Tunggu.. Ruhiyah nya sooobbb.. bikin Hati Geter..

  61. Beres Shubuh beliau Ceramah Shubuh. Beres itu Jamaah Bubar kn.. Ada yang tidur lagi, nah gw Ngbrl sm @CepJohan di Pintu Masjid. :D

  62. eh Ustadz Keluar Sambil Nenteng Sendal.. Sambil Bungkukin Badan beliau bilang "ke Jakarta dulu ya".. Beuhhh !!!

  63. Ga Percaya Beliau Bolak Balik Bandung Jakarta?? Hayu kita Itikaf Bareng sm Ustadz Abdul Aziz abdur Rauf Mulai Besok di Habiburrahman. ;)

  64. Pernah sekali 3 Taun yang Lalu kl Ga Salah.. Beliau ga Full Mimpin Sholat Karena ada Masalah di Pita Suara nya.. jd di Ganti murid nya

  65. Beliau bilang "mohon Maaf,Pita Suara sy Bermasalah Krn sy Baru Pulang dari Padang Buat jd Imam QL trus lsg Ke sini.Nampak Fisik Melemah"

  66. Mblo..Kita Suara Serek Karna Karokean Mblo..Ustadz pita suaranya Keganggu krn 3Pekan Full Ngimamin Qiyamul Lail Ga Putus. (۳˘̩̩̩Д˘̩̩̩)۳

  67. Semoga Allah Selalu Jaga Kesehatan Ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf.. Cemburu Parah gw sm dia. Sekali Ramadhan bisa Puluhan Kali Khatam. :')

  68. Gitu Mblo.. Jd Kalo ada yang Bilang "Ustadz PKS semenjak jadi Anggota Dewan Berubah" lu Senyumin aja.. Trus lu Kecup Tangannya. :D

  69. Sambil lu Kecup Tangan nya sambil lu Bilang "Syafakallahu Syifaan Ajilan" :D *Canda sob* Serius amat sik.. hehe.. Salam.. ;)


Sumber :http://www.pkspiyungan.org/2012/08/masya-allah-aleg-aleg-pks-emang-beda.html

___________ posted by: Blog PKS PIYUNGAN - Bekerja Untuk Kejayaan Indonesia

18:01 | Posted in , | Read More »

Subhanallah, Hujan Turun Deras Usai Gubernur Jabar Pimpin Sholat Istisqa


Sekitar dua jam pasca Gubernur dan PNS Pemprov Jabar menggelar salat Istisqa
di halaman Gedung Sate, hujan deras mengguyur sebagian wilayah Kota Bandung. -
inilah.com/Riza Pahlevi

Bandung - Sekitar pukul 12.30 WIB, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan bersama jajaran pegawai di lingkungan Pemprov Jabar selesai menjalani sholat istisqa di halaman Gedung Sate Kota Bandung (18/9). Tak berselang lama, sekitar dua jam kemudian, hujan deras mengguyur sebagian wilayah Kota Bandung.

Berdasarkan pantauan INILAH.COM, hujan cukup lebat turun sekitar 15.30 WIB membasahi wilayah Ujungberung dan sepanjang Jalan Soekarno Hatta (By Pass). Tidak hanya itu, awan hitam pun menggelayut di langit Kota Bandung. Sawah kering di sepanjang Jalan Soekarno Hatta juga mulai tergenangi air.

"Alhamdulillah hujan turun juga, tadi memang suasana cukup panas tapi setelah turunnya hujan ini akhirnya lega juga," kata salah seorang warga Jatnika saat ditemui di Jalan Soekarno Hatta Kota Bandung, Selasa (18/9/2012).

Sebelumnya dalam khutbah saat salat istiqa, Heryawan mengatakan, dirinya berharap dengan dilakukannya ibadah kali ini di Jabar akan segera turun hujan.

"Mudah-mudahan, besok atau lusa di Jawa Barat dapat secepatnya turun hujan, mengingat saat ini hujan sudah sangat jarang sekali terjadi," ujar Heryawan.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan memimpin Salat Istisqa 
yang diikuti oleh jajaran pegawai Pemprov. Jawa Barat di halaman Gedung Sate, Bandung, Selasa, (18/9/2012).
(foto: detik.com)

17:52 | Posted in | Read More »

PKS: Sebuah Perjalanan Panjang




by Anak Kader PKS | Kompasiana

Hati saya maju mundur membuat akun (kompasiana) ini. Lakukan, tidak. Lakukan, tidak. Sampaikan, tidak. Sampaikan, tidak.

Saya tak setegar orang tua, yang tetap berjuang meskipun wadah yang dicintainya kini sedang diserang pisau-pisau tajam dari luar. Saya tak se-membara orang tua, untuk berapi-api berjuang dalam jalan yang mereka sebut dakwah.

Lahir pada tahun 1991, sejak kecil saya telah diakrabi dengan kegiatan orangtua yang disebut dakwah. “Abi (ayah) ke mana?” “Dakwah, sayang. Abi sedang berjuang untuk dakwah.”

Hingga saat ini rumah saya terkenal kosong dari jam 6 pagi - 5 sore. Dulu saat dakwah itu belum lahir menjadi sebuah wadah bernama Partai Keadilan, saat-saat rumah yang kosong itu pun tidak dapat dipastikan.

Abi yang senantiasa ke luar kota untuk menyebarkan semangat ber-Islam, pulang dengan motor otok-otoknya yang selalu kami tunggu. Kami tunggu abi pulang. Karena sebelum tidur, abi punya hutang. Membacakan kisah para Nabi & para shahabatnya kepada saya dan adik-adik.

Di subuh hari, rumah kami penuh kicauan. Al-Qur’an. Kadang kala sampai jam 6. Tidak boleh berangkat sekolah kalau target bacaannya hari ini belum tercapai.

Kami bukan keluarga kaya. Bahkan kalau boleh dibilang tak punya. Semua uang yang dihasilkan Abi & Umi digunakan untuk menyekolahkan saya dan adik-adik. Sempat les bahasa arab juga, namun terhenti karena kebutuhan saya & adik-adik akan buku. Setiap minggu bisa 6-10 buku abi belikan dari toko buku bekas untuk kami.

Kami bukan keluarga kaya. Tapi masih dikorbankan Abi untuk berdakwah ke luar kota yang berjarak 7-8 jam dari rumah dengan sepeda motor. Biaya sendiri, hanya untuk sebuah pertemuan yang tak lebih dari 3 jam. Pertemuan yang hingga saat ini bagi saya menjadi suplemen mingguan. Pertemuan yang saya sebut lingkaran cinta, karena rasa akrab dan cinta yang tak dapat saya temukan di mana pun juga.

Itu dilakukan abi terus dan menerus. Seminggu bisa 3-4 kali yang namanya berdakwah. Sampai-sampai rasanya kami terabaikan. Hanya bertemu abi di Subuh dan malam sebelum tidur. Padahal menghasilkan uang lebih juga tidak.

Umi (Ibu) pun sama. Kegiatan berputar antara rumah, kerja, dan dakwah. Ada masa ketika wanita-wanita berwajah teduh memenuhi rumah kami dengan kicauan Al-Qur’an dan tawa lembut. Kemudian ketika saya atau adik mengintip melalui gorden, mereka tersenyum, membujuk kami keluar ke ruang tamu yang sesak. Dipeluk, digendong, disayang.. Ah, memiliki Umi yang berdakwah tak pernah seindah ini.

Tapi juga ada masa ketika saya bertanya-tanya, apakah Umi tidak terlalu baik kepada tamunya? Hingga kadang terasa perlakuan terhadap tamu lebih baik dibanding terhadap anaknya. Baru sekarang memahami, ah, anak memang perlakuannya berbeda. Harus tegas, kalau tidak saya tetap nakal hingga sekarang.

Berdirinya Partai Keadilan saat itu belum melonggarkan himpitan kesibukan orang tua yang terasa. Dakwah, dakwah, dakwah. Kapan waktu untuk keluarga?

Ada, sebenarnya. Dulu sebelum Partai Keadilan terbentuk, hingga beberapa tahun setelahnya, orang-orang yang berjalan di jalan dakwah ini senang mengumpulkan keluarga. Kami liburan bersama. Hampir setiap kami, anak-anaknya, liburan sekolah. Tentu saja lelaki dan perempuan dipisah. Suatu kali saya terbangun tengah malam di sebuah liburan di pegunungan. Saat itu saya keluar dan melihat barisan yang sedang berdiri berjama’ah. Ah, mereka sholat malam. Isak tangis terdengar lirih di mana-mana. Indah..

Bagi yang belum pernah merasakan, cobalah shalat malam di sudut kamar, gelapkan. Ungkapkan isi hati, penyesalan, dosa. Keluarkan tangis sesal, duka, harapan. Saat itu terasa betul Tuhan melangkah seribu kali lebih dekat..

Beberapa tahun setelah Partai Keadilan terbentuk, saat kadernya mulai bertambah, kesibukan dakwah itu mulai berkurang. Orang tua saya kemudian meluangkan waktu lebih banyak dengan keluarga. Tapi bagi saya, sedikit terlambat. Dalam hati saya merasa kesepian karena kecilnya peran orang tua saat saya masih kecil. Saya pun bertekad, tidak akan menjadi sesibuk mereka. Saya akan merawat dan dekat dengan anak-anak saya kelak. Saya akan membagi waktu antara kesibukan luar rumah dengan anak-anak saya. Sebagaimana saya ingin cinta yang lebih, saya ingin memberikan anak-anak saya nanti cinta yang lebih. Lebih lebih lebih banyak.

Kemudian saya menikmati hidup. Menjauh dari kegiatan PKS yang seringkali melingkar dengan orang-orang PKS sendiri. Bersenang-senang. Tertawa. Meskipun terkadang kekosongan itu terasa. Saya ingin bebas. Karena menjadi anak kader di lingkungan PKS, berarti tidak bisa menjadi diri saya yang saya inginkan. Akan selalu diasosiasikan dengan orang tua. “Ah, anaknya Ustadz X ya?” “Gimana kabar Umi?” Baik sih, kadang terlalu baik.

Kalau ada kegiatan, judul kolom absen bagi kami itu ada kolom khusus : nama orang tua.

Kekosongan itu lama-kelamaan semakin besar. Meskipun saya tertawa bersama teman, ada yang saya rindukan. Dan kini, ketika wadah jalan dakwah itu sedang dicaci maki.. Hati saya tergerak dan tersadar.

Ah, ini yang saya rindukan..

Kebersamaan dalam perjuangan. Kebersamaan dalam semangat. Kebersamaan dalam menyebarkan keindahan Islam. Kebersamaan yang mengikat orang-orang yang berada pada jalan dakwah ini menjadi satu jiwa. Ketika seujung kuku sakit, ujung rambut merasa. Hingga sakit itu kemudian dirasakan bersama.

Meskipun saya hingga saat ini tidak tercatat sebagai kader PKS di mana pun, saya tetap bergabung dalam sebuah lingkarang cinta. Di mana kami saling menyapa, mendo’akan, mengingatkan, berbagi kisah.

Hingga suatu saat lingkaran kecil saya menyetel video pengangkatan Ustadz Anis Matta. Bahkan saya pun menangis. Saya, satu-satunya orang yang tidak tercatat sebagai kader PKS di lingkaran cinta itu. Saya yang selama ini selalu berperang dengan ide, bahwa dakwah tidak harus di PKS!

Kemudian saya dengar seorang wartawan menanyakan kepada salah satu pengurus Partai Keadilan Sejahtera yang pada momen itu menangis. Kenapa menangis?

Ah, cinta.. Harus dijawab kah?

Kujawab pun kalian tiada mengerti. Karena belum kalian rasakan ruh-ruh yang saling diakrabkan oleh iman. Belum kalian rasakan persaudaraan melebihi sahabat yang tak perlu harus diungkapkan bagaimana rasanya. Tidak terlukiskan.

Hati ini menangis. Menjerit. Air mata ini terus meleleh. Karena hati ini merasakan sakit.

Sebuah keyakinan yang entah darimana datangnya.

Terbayang hari-hari di mana kami harus makan seadanya, sementara uang digunakan untuk membeli bensin membela dakwah. Ah, cinta..

Detik itulah saya sadar. Inilah jalan yang dicintai orang tua saya. Jalan yang dicintai sama besarnya dengan cinta terhadap anak-anaknya. Juga jalan yang diharapkan akan mempermudah anak-anaknya.

Orang tua saya dan teman-temannya termasuk orang-orang yang memperjuangkan diperbolehkannya jilbab & kerudung di negeri ini. Mereka termasuk orang-orang yang getol berjuang membela sesuatu yang saat itu bahkan belum tampak masa depannya. Usaha, usaha, usaha, dan keyakinan bahwa Allah akan menunjukkan hasil nantinya.

Maka saya katakan kepada orang yang kini terus mencaci maki jalan orang tua saya, dan insya Allah saya nantinya, makilah! Toh hanya mulutmu yang bisa kau gunakan. Uangmu habis untuk membesarkan perutmu saja. Makilah!

Inilah jalan yang banyak menghabiskan nyawa di antara tahun 1990-1997. Teringat sebuah majalah islami yang saya baca saat masih beranjak TK. Salah seorang muslimah yang turut berjuang di jalan ini mati dicekik hingga kehabisan napas ketika pulang dari berdakwah. Tidak untuk dirampok, karena hartanya masih ada. Tidak untuk dinistai, karena tubuhnya bersih. Dan tidak perlu ditanyakan kenapa lagi, karena banyak pejuang yang mengalami nasib serupa.. Makilah!

Di antara sekian politik kotor di negeri ini, tak bisakah mata mu melihat mana yang lebih jernih? Sungguh manusia tiada yang sempurna. Yang ada hanya insan yang senantiasa ingin menjadi lebih baik di setiap saatnya.

Maka di mana kah kamu saat ini? Di golongan memaki, atau golongan yang terus berupaya menciptakan Indonesia yang lebih baik? Karena sungguh orang yang mengerti kerja keras perubahan tidak akan mudah mengeluarkan celaan.

—————————————————

Semoga keberadaan akun (Kompasiana) ini tidak menjadi sebuah fitnah, karena hanya kebenaran yang ingin saya sampaikan melalui akun ini. Perwakilan isi hati saya atas apa yang saya rasakan ketika menjadi anak kader PKS. Dan sampai sekarang, hanya PKS yang ada di hati saya. Bismillah, do’akan saya menjadi anak yang lebih baik, hingga suatu saat dapat bergabung dalam barisan ini dengan rasa pantas.

*http://politik.kompasiana.com/2013/03/05/pks-sebuah-perjalanan-panjang-534297.html
Sumber: pkspiyungan.org

17:40 | Posted in | Read More »

Sang U m a r a


menyanyikan 'kehidupan' Bersama Buruh


by roni sewiko*

Sepanjang berkali-kali ke tempat ini, mungkin pengalaman malam kemarin akan jadi momen paling berkesan.

Tempat ini dulu rasanya sakral sekali. Hanya orang tertentu yang bisa masuk, para gegedensaja. Mereka berkunjung, berdiplomasi, atau sekedar pesta. Nuansa militeristik sangat kentara. Setiap perilaku tuan rumah rasanya ibarat instruksi.

Namun sejak ia datang, tempat ini sudah seperti balai umum. Setiap orang boleh masuk. Ekspatriat, Pejabat, Demonstran, Petani, Nelayan, Mahasiswa, Rakyat biasa, RT/RW, Kades, buruh dan masyarakat dari beragam elemen, status dan strata tak asing ada disini. Sebagian besar dari mereka pun selalu berkomentar serupa, "bungah, mimpi rasanya menginjakkan kaki di tempat ini."

Awal ia masuk ke tempat ini, yang berarti ia mulai menjalankan fungsinya sebagai pemimpin, banyak orang meragukan. Setiap polling dan survey selalu menunjukkan antusiasme dan atensi rendah dari masyarakat padanya. Beragam komentar miring dari para tokoh parahyangan rajin beredar di media. Isinya sama. Mereka, tak merasakan dampak kepemimpinannya. Mereka, menuntut ia mundur.

Ironis, dan sangat miris. 

Ia, yang tak dikenal. Kemudian mesti jadi pejabat publik, dan menghadapi badai kritik. Jika bukan orang yang menggantungkan diri pada Kasih Sayang Allah, sungguh akan gusar diri dipermainkan opini.

Namun ia bertahan. Bertahan dan terus Berkarya.Ia jawab semua dengan bukti, dengan Kerja. Dan ini yang unik. Justru saat segala upayanya perlahan menjawab kritik dan kekhawatiran itu, tak ada yang menyambungkabarkannya pada masyarakat. Segala kerja keras yang berbuah penghargaan nasional dan bahkan internasional itu, redup dari ekspos media massa.

Jika terbiasa datang ke tempat ini, dan berinteraksi dengan para staf akan terdengar keluh dan ekspresi nyaris sama. Mereka, pegawai kerumahtanggaan, penjaga, terlebih para pengawal merasa lelah bukan main. Mengapa demikian? rasanya tak perlu dijawab lugas disini. Cukup coba saja ikuti aktvitas orang satu ini seminggu penuh, dan selamat merasakan kelelahan luar biasa. Saya tak melebih-lebihkan. Jika para pengawalnya yang bergantian shift 3 harian saja bisa sangat kelelahan, apalagi kita yang tak terbiasa??

Ada satu hal yang selalu jadi pertanyaan banyak orang di tempat ini, juga dari orang-orang yang mengenalnya, atau terbiasa berinteraksi dengannya. Darimana, darimana ia bisa mendapat energi untuk memenuhi semua aktivitas itu?

Banyak yang berkomentar. Obat, suplemen, kurma, madu, dan jawaban tebak-tebak lainnya. Tapi sebagai muslim, saya rasa kita tahu jawabnya. Bahwa orang yang tengah bermujahadah di jalan Allah, yang memiliki Visi Besar, pasti akan selalu memiliki spirit besar untuk bekerja, bekerja dan bekerja.

Ya, kedekatan pada Allah itulah sumber energi utama orang-orang yang berjuang dengan benar. Bila bukan karenaNya, tak perlu diragukan bahwa niat yang salah, malas dan putus asa akan menggerogoti amanah kepemimpinan nantinya.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan, adalah masa pembuktian seorang Muslim. Bukti atas tekad kuat, bukti kualitas keimanan. Menyesal karena malam ke-21 saya tak i'tikaf, Jum'at 10 Agustus 2012 saya putuskan untuk bermalam di Mesjid. Kebetulan, kala itu saya memang tengah berada disana, di tempat orang itu berdinas.

Selepas 2 rakaat shalat dan beberapa lembar tilawah, ternyata badan sudah tak bisa diajak kompromi. Sekitar pukul 10 lewat, terdengar suara sirine dan rangkaian mobil memasuki rumah dinas ini. "Sang istri baru pulang", tebak saya. Lalu pukul 11 lewat, kembali terdengar gaduh yang sama. "Nah kali ini,sang suami yang pulang", terka saya lagi. Lelah, saya pun rebah. Tak ada siapapun disini, cuma saya sendiri.

Alangkah kaget, sekitar pukul 00.30 dua sosok itu memasuki mesjid. Saya yang tengah terkantuk-kantuk meronjat dan membalas sapaan mereka seadanya. Karena gugup dan malu, kantuk pun rasanya terusir dan saya kembali meneruskan tilawah.

Lelaki itu lalu melaksanakan shalat, sekitar 3 meter saja disamping kiri saya, dan sang istri melakukan hal sama di belakang. Selepas shalat, Ia membaca beberapa lembar Al Qur'an, dengan suara yang telah parau. Tak lama, tilawah parau itu pun telah jelas jadi dengkuran.

Dalam hati, saya tersenyum. Menganggap wajar suara dengkuran itu. Dengkuran orang lelah yang siangnya telah melakukan sidang terbatas bersama Presiden RI di Jakarta dan sorenya silaturahim dengan warga Purwakarta. Malamnya ia tarawih keliling di sebuah mesjid di kawasan bandung.

Selepas dirasa cukup porsi tilawah malam ini, saya kembali beranjak shalat. 2 rakaat panjang kembali. Merapal 3 halaman pertama surat kedelapan, surat Al Anfal, surat yang apik diisi pesan-pesan perjuangan.

Ketika salam, baru saya melihat mereka berdua di belakang.

Sang istri tersandar pada lemari penyimpanan mukena, lelap berbekal selimut. Dan sang suami, bersandar pada sang istri. Lelap dengan dengkuran yang terdengar lebih damai. Pemandangan yang sangat indahn damai dan mendamaikan.

Kiranya setiap pemimpin seperti itu. Diujung lelah atas aktivitas yang padat, mereka berserah pada Allah. Mereka pertemukan iman mereka dengan jaminan dan Janji-jani Allah atas berjuta karuniaNya di sepuluh malam terakhir.

Saat kemudian shubuh datang, lelaki itu sudah siaga di Mesjid. Saya jadi orang ketiga yang memasuki mesjid setelah ia dan muadzin. Selepas iqamah, mantap ia melangkah ke mimbar imam. Mengecek anak, keenamnya ada. Begitu pun sang istri.

Mantap ia bertakbir, memimpin Shalat semantap ia memimpin Jawa Barat.

Terima kasih atas inspirasinya, Pak Gubernur Ahmad Heryawan, dan Ibu Netty Prasetyani.


*repost dari: http://mataronis.blogspot.com/2012/08/sang-umara.html

17:35 | Posted in | Read More »

Jadilah Kitab Walau tanpa Judul


Oleh: KH Hilmi Aminuddin
(Ketua Majelis Syura PKS)
---
Kun kitaaban mufiidan bila 'unwaanan, wa laa takun 'unwaanan bila kitaaban. Jadilah kitab yang bermanfaat walaupun tanpa judul. Namun, jangan menjadi judul tanpa kitab.

Pepatah dalam bahasa Arab itu menyiratkan makna yang dalam, terutama menyangkut kondisi bangsa saat ini yang sarat konflik perebutan kekuasaan dan pengabaian amanah oleh pemimpin-pemimpin yang tidak menebar manfaat dengan jabatan dan otoritas yang dimilikinya. Bangsa ini telah kehilangan ruuhul jundiyah, yakni jiwa ksatria. Jundiyah adalah karakter keprajuritan yang di dalamnya terkandung jiwa ksatria sebagaimana diwariskan pejuang dan ulama bangsa ini saat perjuangan kemerdekaan.

Semangat perjuangan (hamasah jundiyah) adalah semangat untuk berperan dan bukan semangat untuk mengejar jabatan, posisi, dan gelar-gelar duniawi lainnya (hamasah manshabiyah). Saat ini, jiwa ksatria itu makin menghilang. Sebaliknya, muncul jiwa-jiwa kerdil dan pengecut yang menginginkan otoritas, kekuasaan, dan jabatan, tetapi tidak mau bertanggung jawab, apalagi berkurban. Yang terjadi adalah perebutan jabatan, baik di partai politik, ormas, maupun pemerintahan. Orang berlomba-lomba mengikuti persaingan untuk mendapatkan jabatan, bahkan dengan menghalalkan segala cara. Akibatnya, di negeri ini banyak orang memiliki "judul", baik judul akademis, judul keagamaan, judul kemiliteran, maupun judul birokratis, yang tanpa makna. Ada judulnya, tetapi tanpa substansi, tanpa isi, dan tanpa roh.

Padahal, ada kisah-kisah indah dan heroik berbagai bangsa di dunia. Misalnya, dalam Sirah Shahabah, disebutkan bahwa Said bin Zaid pernah menolak amanah menjadi gubernur di Himsh (Syria). Hal ini membuat Umar bin Khattab RA mencengkeram leher gamisnya seraya menghardiknya, "Celaka kau, Said! Kau berikan beban yang berat di pundakku dan kau menolak membantuku." Baru kemudian, dengan berat hati, Said bin Zaid mau menjadi gubernur.

Ada lagi kisah lain, yaitu Umar bin Khattab memberhentikan Khalid bin Walid pada saat memimpin perang. Hal ini dilakukan untuk menghentikan pengultusan kepada sosok panglima yang selalu berhasil memenangkan pertempuran ini. Khalid menerimanya dengan ikhlas. Dengan singkat, ia berujar, "Aku berperang karena Allah dan bukan karena Umar atau jabatanku sebagai panglima." Ia pun tetap berperang sebagai seorang prajurit biasa. Khalid dicopot "judul"-nya sebagai panglima perang. Namun, ia tetap membuat "kitab" dan membantu menorehkan kemenangan.

Ibrah yang bisa dipetik dari kisah-kisah tersebut adalah janganlah menjadi judul tanpa kitab; memiliki pangkat, tetapi tidak menuai manfaat. Maka, ruuhul jundiyah atau jiwa ksatria yang penuh pengorbanan harus dihadirkan kembali di tengah bangsa ini sehingga tidak timbul hubbul manaashib, yaitu cinta kepada kepangkatan, jabatan-jabatan, bahkan munafasah 'alal manashib, berlomba-lomba untuk meraih jabatan-jabatan. Semoga.


*sumber: Republika, pkspiyungan.org
---

17:32 | Posted in | Read More »

Ad-Da’watu Waludatun


Oleh: KH. Hilmi Aminuddin

Puluhan tahun yang lalu, langkah-langkah harakah di sini, di Indonesia, sunyi sepi. Illa ma’allah, kecuali bersama Allah. Mengayunkan kaki seorang diri. Beberapa waktu kemudian dilakukan ta’sis haraki atau ta’sis amali. Dalam ta’sis tanzhimiwaktu itu, kita hanya berkumpul empat orang. Kita hanya duduk lesehan, bukan di hotel. Dari hanya empat orang, sekarang di level qiyadah saja sudah ada ratusan orang.

Saya menjadi yakin, kata-kata dari salafu-shalih dalam dakwah ini yang mengatakan, “Ad-Da’watu Waludatun”, bahwa dakwah ini sangat mudah beranak pinak. Sangat subur dan mudah berketurunan.

Lihat saja ikhwan dan akhwat yang bergabung dalam dakwah ini, secara biologis pun jumlah anaknya lumayan. Saya kira secara nasional keluarga kita ‘paling berprestasi’, lima, delapan, sepuluh, atau tiga belas orang anak. Ini salah satu indikator bahwa “Ad-Da’watu Waludatun.”, bahwa dakwah ini sangat subur melahirkan generasi baru. Bahkan secara biologis lebih dulu dibuktikan oleh Allah SWT secara ‘a’iliyah thabi’iyyah.

Secara haraki da’awi pun kita lihat luar biasa. Ini membuat saya di hari tua tersenyum. Rasanya saya tidak perlu berdo’a seperti Nabi Zakaria, yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam surah Maryam. Dia merayu dan merajuk kepada Allah SWT, dalam kesepuhan dan kerentaan, beliau masih belum juga memiliki generasi penerus yang akan melanjutkan langkah-langkah dakwah. Langkah-langkah dakwah yang diharapkan dapat diteruskan oleh pewaris itu belum juga muncul, sehingga beliau melanjutkan dengan do’a yang dijelaskan oleh Allah SWT,

“Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang isteriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putera, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebahagian keluarga Ya’qub; dan jadikanlah ia, Ya Tuhanku, seorang yang diridhai”. (QS. Maryam, 19: 5-6)

Agar menjadi pewaris yang esensinya adalah pewaris dakwah. Penerus-penerus risalah Nabiyullah Ya’qub ‘alahissalam.

Sepertinya saya tidak perlu berdo’a seperti ini, karena baik secara biologis atau secara harakipun, Allah telah membuktikan bahwa “Ad-Da’watu Waludatun”, bahwa dakwah ini sangat subur melahirkan generasi baru, termasuk generasi kepemimpinan. Bahwa dakwah ini mendapat sambutan yang hangat dari generasi terbaik dari umat ini. Bahkan sebetulnya, kalau kita pelajari secara demografis—penduduk negara-negara muslim itu rata-rata banyak. Berarti pula “Ad-Da’watu Waludatun.” Itu berpangkal dari “Al-Ummatu Waludatun”, bahwa umat kita sangat tinggi populasinya dan mudah beranak pinak. Ada masyaikh dakwah yang mengatakan bahwa di bumi dimana kalimat ‘Laa Ilaaha Illa-llah Muhammadur-Rasulullah’ dikumandangkan, maka segalanya akan subur. Cepat melahirkan betapa pun kondisinya sulit.

Di Palestina dalam kondisi terhimpit, terjajah, tertindas, dan ada pembantaian, perbandingan kelahiran antara Muslimin Palestina dan Yahudi adalah 1 : 50. Yahudi sebelum takut oleh ledakan roket-roket HAMAS, sudah takut oleh ledakan penduduk umat Islam Palestina.

Jadi ikhwan wa akhwat fillah, kalau kemudian para salafu-shalih mengatakan al-mustaqbal lil-Islam dan al-mustaqbal li-da’watina, itu sesuai dengan fitrah pertumbuhan. Baik secara demografis maupun secara dakwah dan harakah.

Harakah dan dakwah kita di Indonesia sangat berpeluang dan paling berpotensi dalam segi pertumbuhan. Kita sudah memasuki era musyarakah, dengan mizhallah siyasiyah, payung politik yang besar dan lebar. Tersedia medan yang luas untuk bergerak, peluang-peluang juga sangat luas di segala bidang. Dan Alhamdulillah pertumbuhan kader pun sangat menggembirakan. Ini adalah pemberian Allah semata. [al-intima]

17:23 | Posted in , , | Read More »

INSPIRASI TOKOH

Recently Commented

Recently Added

PELEMBUT HATI